Luar Biasa!
Daftar Isi
Sumedang – Tanaman anggrek menghampar pada meja-meja panjang di sebuah screen house milik Bojongseungit Orchid. Di antara ribuan pot itu, ada tiga anakan yang telah diakui dunia.
The Royal Horticultural Society (RHS) memberikan tiga sertifikat untuk anakan (hybrids) anggrek yang dikembangkan oleh Suhara, pemilik Bojongseungit Orchid yang berbasis di SMK PPN Tanjungsari, di Jalan Raya Sumedang-Bandung, Desa Gunungmanik, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Di tempat itu, Suhara dengan piawai mengawinkan indukan-indukan anggrek sehingga melahirkan anakan yang memiliki warna dan bentuk berbeda dari jenis atau anakan lain yang pernah ada di dunia. Tidak seperti mengawinkan binatang, mengawinkan anggrek perlu kesabaran ekstra dalam menunggu tanaman itu berbunga. Namun, demikianlah Suhara yang tak pernah jemu menunggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga anakan anggrek yang telah mendapat pengakuan itu masing-masing diberi nama oleh Suhara dengan nama yang lekat dengan sejarah SMK PPN Tanjungsari. Nama-nama tersebut tertaut pada sosok yang berjasa menghibahkan tanahnya untuk sekolah pertanian tersebut, yaitu Pangeran Adipati Aria Soeria Atmadja (11 Januari 1851-1 Juni 1921), yang merupakan Bupati Sumedang ke-29.
“Kamu tahu enggak saya punya anak yang lahir di sini tiga?,” katanya kepada detikJabar saat memulai perbincangan dalam bahasa Sunda belum lama ini.
ADVERTISEMENT
Kebingungan atas pertanyaan itu berakhir ketika Suhara menyambung ucapannya dengan memperlihatkan tiga sertifikat dunia untuk anggrek yang direkayasanya.
“Sertifikat Registrasi Internasional untuk Dendrobium Aria Soeria Atmadja (Den. bigibbum x Den. Jaq-Hawaii) yang telah didaftarkan oleh Suhara dari Indonesia, di mana The Royal Horticultural Society bertindak sebagai Otoritas Registrasi Pembudidaya Internasional,” tulis salah satu sertifikat berbahasa Inggris itu.
Dengan senyuman, Suhara bercerita banyak tentang perjalanannya mengupayakan anggrek-anggrek hasil budidayanya terdaftar di otoritas dunia. Kelak, sekalipun ada pihak dari negara lain yang mendaftarkan anakan anggrek yang sama, pengakuan dunia tetap tertuju pada Suhara sebagai pendaftar pertama.
“Selain yang telah terdaftar itu, ada anggrek-anggrek yang saya harus menunggu sepuluh tahun baru bisa melihat bagaimana bunganya,” kata Suhara.
Tiga Anakan Anggrek dari Sumedang yang Mendunia
Berikut ini tiga anakan anggrek yang diregistrasi dari Sumedang:
1. Dendrobium Aria Soeria Atmadja
Dendrobium Aria Soeria Atmadja (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar).
Anggrek ini berbunga indah dengan warna ungu cerah dan paduan warna putih. Tanaman ini merupakan hasil persilangan dari Dendrobium bigibbum x Dendrobium Jaq-Hawaii.
Menurut situs RHS, yang paling memengaruhi terbentuknya hybrids* bernama Dendrobium Aria Soeria Atmadja ini adalah Dendrobium bigibbum sebesar 50 persen, Dendrobium bigibbum var. superbum sebesar 25 persen, dan Dendrobium lineale sebesar 12,50 persen. Anggrek ini teregistrasi di RHS pada tanggal 23 Juni 2025.
2. Dendrobium Bojongseungit
Dendrobium Bojongseungit (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar).
Bunga anggrek Dendrobium Bojongseungit dari kejauhan tampak bulat, tetapi saat dilihat dari dekat akan tampak kelopak-kelopak mekar dengan jalinan rapi yang sedap dipandang. Bentuknya menyerupai empat lingkaran kecil yang satu sisinya saling bertautan pada sebuah titik.
Warna bunga anggrek ini ungu pekat dan semakin tegas dengan semburat warna putih menjelang bagian tengah bunga. Anggrek ini diberi nama sesuai dengan lokasi budidayanya, yakni Bojongseungit Orchid.
Bojongseungit sendiri merujuk pada sebuah area di SMK PPN Tanjungsari yang digunakan sebagai lahan praktik pertanian para siswa. Di sana, terdapat tanaman kakao, kopi, dan sejumlah komoditas lain yang menjadi bahan kajian serta pengajaran.
Dendrobium Bojongseungit merupakan anakan dari perkawinan Dendrobium Burana Fuchsia dengan Dendrobium New Village Red. Anggrek ini terdaftar di RHS pada 3 Juli 2025.
3. Dendrobium Landbouw Bedrijf School
Dendrobium Landbouw Bedrijf School (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar).
Varian paling bungsu di antara anakan anggrek di Bojongseungit Orchid yang mendapatkan pengakuan internasional adalah Dendrobium Landbouw Bedrijf School.
Namanya terdengar seperti nama Belanda. Hal itu merujuk pada nama lama SMK PPN Tanjungsari. Landbouw Bedrijf School (LBS) adalah sekolah pertanian yang didirikan untuk mendidik penduduk pribumi. LBS di Tanjungsari didirikan pada 26 November 1914 oleh Bupati Sumedang, Pangeran Aria Soeria Atmadja.
Dendrobium LBS merupakan hasil persilangan Dendrobium Canary Gold dengan Dendrobium Woo Leng. Bunga hybrids ini memiliki warna pink yang cerah dengan bentuk sepintas menyerupai ekor ikan cupang ketika sedang mekar. Anggrek ini resmi teregistrasi pada 27 Maret 2026.












